Eksklusivisme Bahasa Jawa di Kalangan Remaja Pada Era Revolusi Industri 4.0

  • Khususiyah Khususiyah Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Devi Kusuma Ardhani Pascasarjana IAIN Kediri
  • Nora Yuniar Setyaputri Universitas Nusantara PGRI Kediri
Keywords: bahasa jawa, eksklusivisme, remaja

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya, mulai dari bahasa, sistem nilai, kesenian, kepercayaan, dan lain-lain. Kebergaman ini merupakan identitas dan ciri khas bangsa yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya. Cepatnya laju perkembangan teknologi dan informasi yang tidak tersaring membuat keberadaan nilai-nilai budaya di Indonesia mulai terkikis. Keberadaan budaya asing di tengah masyarakat juga menjadi salah satu sebab tergesernya nilai-nilai budaya di Indonesia, khususnya di kalangan remaja. Salah satunya adalah eksklusivisme atau mulai sulitnya bahasa Jawa berkembang dan digunakan oleh penutur bahasa Jawa sendiri. Berdasarkan fenomena yang ada para remaja lebih sering menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ngoko dalam berkomunikasi dengan teman sebaya, guru dan orang tua. Hal ini dilakukan untuk mempermudah penutur berkomunikasi walaupun sebenarnya tidak sesuai dengan aturan-aturan bahasa Jawa. Ketidaksesuaian ini merupakan salah satu tanda bahwa nilai luhur yang terdapat dalam budaya, khususnya budaya Jawa seakan mulai luntur bahkan bisa saja benar-benar luntur jika hal tersebut tetap dibiarkan saja. Oleh karena itu, disarankan sebaiknya bahasa jawa lebih dilestarikan di dunia pendidikan. Salah satunya dengan penerapan program Dinten Boso Jawi yaitu program yang mengharuskan setiap orang untuk menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan aturan-aturan bahasa Jawa dalam satu hari.

References

Hurlock, Elizabeth B. 1978. Developmental Psyichology. New Delhi: Mc. Grow Hill Book Company.
Ibrahim, Abdul Syukur. 1994. Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. Surabaya: Usaha Nasional.
Jersild, Arthur T. 1965. The Psychology of Adolescence. New York: Mac Milan Publishing.
Kurniawati, Wati. 2007. Bahasa Ibu Menunggu Hari Kepunahan. Disajikan dalam seminar Kongres Linguistik Nasionnal XII, 3 - 6 September 2007 di Surakarta.
Kusumohamidjojo, B. 2000. Kebhinnekaan Masyarakat Indonesia: Suatu Problematik Filsafat Kebudayaan. Jakarta: Grasindo.
Sasangka, Wisnu. 2004. Unggah-ungguh Bahasa Jawa. Jakarta: Paramalingua.
Surachmad, Winarno. 1977. Psikologi Pemuda. Bandung: Jemmars
Sri, Setya. 2009. Unggah-ungguh Bahasa Jawa. Surakarta: Yayasan Paramalingua.
Tim Akar Media. 2003. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Akar Media
https://daerah.sindonews.com/read/1039156/189/kemampuan-berbahasa-jawa-siswa-diy-memprihatinkan-1441060123 , diakses pada tanggal 25 September 2019.
https://jogja.tribunnews.com/2018/02/28/eksistensi-bahasa-jawa-semakin-terpinggirkan , diakses pada tanggal 25 September 2019.
https://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/11/131218/sulitnya-berbahasa-jawa-krama , diakses pada tanggal 25 September 2019.
https://www.antaranews.com/berita/590535/bahasa-jawa-dinilai-bisa-jadi-pedoman-perilaku , diakses pada tanggal 26 September 2019.
Published
2019-11-17
How to Cite
Khususiyah, K., Ardhani, D. K., & Setyaputri, N. Y. (2019). Eksklusivisme Bahasa Jawa di Kalangan Remaja Pada Era Revolusi Industri 4.0. Prosiding SEMDIKJAR (Seminar Nasional Pendidikan Dan Pembelajaran), 3, 391-396. Retrieved from http://ojs.semdikjar.fkip.unpkediri.ac.id/index.php/SEMDIKJAR/article/view/42
Section
ARTIKEL PROSIDING